Guru Besar Sejarah dan Ketua DPP LDII Singgih Dorong Penulisan Ulang Sejarah Indonesia-Sentris

Jakarta (31/12). Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia meluncurkan buku “Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global” sekaligus menetapkan 14 Desember sebagai Hari Sejarah Nasional. Peluncuran digelar di Plaza Insan Berprestasi, Kementerian Kebudayaan RI, Minggu (14/12).
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, menegaskan pentingnya penulisan sejarah nasional sebagai penopang memori kolektif bangsa. “Kalau para sejarawan tidak menulis sejarahnya sendiri, kita akan kehilangan catatan tentang siapa kita. Negara harus hadir memfasilitasi,” ujarnya. Ia menekankan perlunya pendekatan Indonesia-sentris, memperbaiki perspektif sejarah yang selama ini banyak ditulis dari sudut pandang kolonial.
Sejalan dengan itu Singgih Tri Sulistiyono, Guru Besar Sejarah Universitas Diponegoro dan Ketua DPP LDII, menekankan pentingnya reformulasi sejarah nasional untuk memperkuat solidaritas dan identitas kebangsaan. “Globalisasi tidak bisa menjamin kesejahteraan dan keadilan. Negara dan rasa kebangsaan tetap menjadi kunci untuk menjaga bangsa,” tegas Singgih.
Singgih menambahkan bahwa penulisan ulang sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi juga media pemersatu masyarakat dan rujukan kebijakan kontemporer, termasuk dalam bidang hukum, ekonomi, dan sengketa aset negara. Ia juga menekankan pentingnya perspektif Indonesia-sentris yang menempatkan bangsa ini sejajar dalam interaksi global, bukan sekadar penerima pasif pengaruh asing.
Editor Jilid Buku Sejarah Indonesia Cecep Eka Permana, menjelaskan bahwa buku ini menggabungkan disiplin ilmu sejarah dan arkeologi, menyoroti akar peradaban Nusantara yang memiliki jejak penting dalam sejarah dunia. Narasumber lain menilai buku ini komprehensif dalam menggambarkan hubungan Indonesia dengan dunia global dari periode awal hingga era modern, dengan pendekatan public history yang inklusif bagi masyarakat.
Buku ini merupakan hasil kerja kolaboratif 123 penulis dari 34 perguruan tinggi dan lembaga, didukung 20 editor jilid dan 3 editor umum, dengan total 7.958 halaman yang terbagi dalam 10 jilid utama serta satu jilid prakata dan daftar pustaka.
Kegiatan peluncuran ini sekaligus menjadi refleksi atas pentingnya menjaga memori kolektif bangsa, memperkuat identitas kebangsaan, dan menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri keindonesiaan.
Oleh: LDII SULSEL (contributor) / Nisa Ulkhairiyah (editor)
Kunjungi berbagai website LDII
DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng
